Ke Mana Pun Aku Pergi Selalu Ketemu Kader PKS

GambarSemasa kuliah, aku termasuk mahasiswa yang tidak suka beroraganisasi atau kesibukan lainnya yang tidak terkait langsung dengan perkuliahanku. Hari-hariku hanya diisi dengan kuliah dan kegiatan di laboratorium elektro.  Kalaupun ada kegiatan di luar kuliah, paling banter menghadiri kajian di masjid kampus itu pun sifatnya pasif.
 
Kesadaranku untuk aktif beroraganisasi justru muncul setelah wisuda akhir tahun 2000 di Malang, aku merasa perlu memperluas pergaulan dan pilihanku adalah organisasi Islam. Cuma aku bingung, organisasi apa yang harus aku ikuti.
 
Salafy, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir dan Pengajian mengenal Juz  adalah beberapa yang pernah mewarnai langkahku. Tapi semua itu belum bisa memuaskan dahagaku  walau sudah berulang kali kubaca buku atau majalah dari mereka.
 
Aku senang mengunjungi masjid-masjid di Malang yang belum pernah aku shalat di sana, walau harus naik angkot karena waktu itu belum punya motor dan jika ada pengajian disitu biasanya aku sempatkan utk ikutan. Hingga suatu hari  ada pengumuman undangan Mabit di sebuah masjid di perumahan Dieng Malang, aku lupa nama masjidnya.
 
Aku datangi acara mabit tersebut , subhanallah aku datang duluan karena Isya disana dan peserta yang lain belum ada kecuali ta’mir. Disitulah aku disapa oleh sang ta’mir (lupa namanya, kalo tidak salah ustadz alumni Yaman yg dikemudian hari pindah ke surabaya dan digantikan oleh ust Jalaluddin). Sapaan sang Ust sangat menyentuh hati, beliau menyapa seolah-olah sudah kenal lama dengan ku hingga aku betah untuk menunggu acara mabit dimulai. Pada acara itulah aku mengenal orang-orang yang dikemudian hari aku tahu kalau mereka kader-kader Partai Keadilan.
 
Kegiatan-kegiatan kulalui hingga aku mengenal liqo pertamaku, bahkan dikemudian hari justru aku dan adik-adik tingkat ku mendeklarasikan berdirinya KAMMI  di mantan kampusku. Banyak kegiatan KAMMI yang kuikuti justru pada saat aku bukan mahasiswa lagi.
 
Tarbiyah ku di Malang tidak berlangsung lama karena desember 2013 pindah kerja di Surabaya, dengan rekomendasi lisan dari murabbi ke pengurus DPD PKS Surabaya disinilah aku mulai merasakan kegiatan struktur PKS walaupun hanya di level DPC (DPC PKS Tegalsari).
 
Cerita berlanjut ketika desember 2014 aku harus pindah ke Indragiri Hilir Riau, sebuah tempat di pedalaman yang hanya bisa ditempuh dengan speed boat, tapi anehnya di tempat ini aku masih menemukan kader-kader PKS yang jumlah nya tidak sedikit. Aku bertekad setahun disini harus nikah, ndak tau dengan siapa karena tidak pernah pacaran,aku yakin Allah akan membantuku lewat jamaah ini.
 
Setelah menikah 2005 dan punya anak ke-2 di tahun 2009 rasa-rasanya disini aku akan menetap lama. Tapi Allah ternyata punya rencana lain. Juni 2010 aku pindah ke Denpasar dan lagi-lagi aku bertemu dengan kader-kader PKS. Berbekal surat mutasi Tarbiyah dari Riau aku lanjutkan tarbiyah di Denpasar.
 
Pebruari 2011 aku pindah lagi tapi tidak jauh masih di Bali tepatnya di kabupaten Tabanan dan bisa ditebak aku bertemu lagi dengan kader-kader PKS, maka aku lanjutkan lagi terbiyah ku di Tabanan. Pokoknya kemanapun Allah takdirkan aku pergi, tidak akan kutinggalkan jamaah ini. Jamaah yang mengenalkan kepadaku tentang banyak hal.
 

Terimakasih Ya Allah , telah pertemukan aku dengan PKS.

http://politik.kompasiana.com/2013/03/14/kemanapun-aku-pergi-selalu-ketemu-kader-pks-542097.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s